Apakah Ini yang Disebut Mengagumi?
Ada rasa yang datang tanpa pernah kuminta. Tidak ribut, tidak dramatis, hanya pelan tapi mampu mengetuk bagian hati yang selama ini kupikir sudah cukup kuat untuk tidak terpengaruh siapa pun.
Aku pernah kagum pada seorang perempuan. Bukan karena kecantikannya, bukan karena suaranya, bukan pula karena caranya berbicara. Aku kagum karena caranya berdiri ketika hidup mencoba menjatuhkannya berkali-kali. Cara dia menahan sakit tanpa harus berteriak. Cara dia menerima luka tanpa membenci takdir.
Dia tidak sempurna, tapi cara dia bertahan membuatku sadar bahwa kesempurnaan bukanlah tentang tanpa luka tapi tentang bagaimana tetap percaya kepada Allah meski luka itu membuat langkah terasa berat.
Allah pernah berfirman:
“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.”(QS. Al-Maidah: 11)
Ayat itu hidup di dalam dirinya. Dia tidak pernah benar-benar baik-baik saja, tapi selalu terlihat kuat. Dia tidak selalu tersenyum, tapi hatinya tidak pernah menyalahkan takdir. Dia menangis, namun air matanya tidak pernah menjauhkan dirinya dari Allah.
Sampai suatu hari dia berkata bahwa dia juga memiliki rasa yang sama. Seharusnya aku bahagia. Seharusnya aku lega. Tapi justru di situlah pergulatan dimulai. Karena tidak semua yang kita suka harus kita genggam. Tidak semua rasa yang saling bertemu harus diperjuangkan.
Ada saatnya, kita harus cukup dewasa untuk berkata:
Imam Al-Ghazali pernah berkata:
“Apa yang ditulis untukmu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang tidak ditulis untukmu tidak akan pernah kamu miliki.”
Ada sebuah kata mutiara yang sering kuingat:
“Tidak semua yang indah harus dimiliki.Karena kadang, yang paling indah adalah yang hanya bisa kita doakan.”
Dan benar… terkadang yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang, tetapi menyadari bahwa kita harus memilih Allah di atas perasaan kita sendiri.
Jika suatu hari Allah mengizinkan takdir mempertemukan kami dalam jalan yang halal, maka itu karunia yang luar biasa. Tapi jika tidak, semoga rasa ini tetap suci: tidak menjadi dosa, tidak menjadi alasan untuk menjauh dari-Nya, tidak menjadi candu yang melemahkan.


